Surat Al-Muthaffifin: Pokok Kandungan, Keutamaan Serta Manfaatnya
وَيْلٌ
لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ
وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ اَلَا يَظُنُّ اُولٰۤىِٕكَ
اَنَّهُمْ مَّبْعُوْثُوْنَۙ لِيَوْمٍ عَظِيْمٍۙ يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ
الْعٰلَمِيْنَۗ كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ وَمَآ
اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ
لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ وَمَا
يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ
اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى
قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ
يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ ثُمَّ
يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ
Terjemah Kemenag 2019
1.
Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!
2.
(Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang
lain, mereka minta dipenuhi.
3.
(Sebaliknya,) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain,
mereka kurangi.
4.
Tidakkah mereka mengira (bahwa) sesungguhnya mereka akan dibangkitkan
5.
pada suatu hari yang besar (Kiamat),
6.
(yaitu) hari (ketika) manusia bangkit menghadap Tuhan seluruh alam?
7.
Jangan sekali-kali begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka
benar-benar (tersimpan) dalam Sijjīn.748)
8.
748) Sijjīn adalah nama kitab yang mencatat segala perbuatan orang-orang
yang durhaka.
9.
Tahukah engkau apakah Sijjīn itu?
10. (Ia adalah) kitab yang berisi
catatan (amal).
11. Celakalah pada hari itu bagi
para pendusta,
12. yaitu orang-orang yang
mendustakan hari Pembalasan.
13. Tidak ada yang mendustakannya,
kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi sangat berdosa.
14. Apabila dibacakan kepadanya
ayat-ayat Kami, dia berkata, “(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu.”
15. Sekali-kali tidak! Bahkan, apa
yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.
16. Sekali-kali tidak!749)
Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhannya.
17. 749) Maksudnya adalah
sekali-kali tidak seperti apa yang mereka katakan, yakni bahwa mereka dekat
pada sisi Tuhan.
18. Sesungguhnya mereka kemudian
benar-benar masuk (neraka) Jahim.
19. Lalu dikatakan (kepada mereka),
“Inilah (azab) yang selalu kamu dustakan.”
AL-Muthaffifin sendiri artinya adalah “orang-orang yang curang”. Surat
ini terdiri atas 36 ayat, termasuk dalam golongan Surat Makkiyyah, dan
diturunkan setelah Surat Al-Ankabut. Surat Al-Muthaffifin merupakan surat
terakhir yang di kota Makkah sebelum baginda Rasulullah Saw. hijrah ke kota
Madinah, ia diberi nama Surat Al-Muthaffifin karena merujuk ada lafaz al-muthaffifin yang
terdapat pada ayat pertama.
Pokok Kandungan Surat Al-Muthaffifin
Adapun pokok kandungan dari Surat Al-Muthaffifin adalah sebagai berikut:
Ancaman Allah terhadap orang-orang yang mengurangi hak orang lain dalam
timbangan, ukuran dan takaran;
Menjelaskan tentang catatan kejahatan makhluk yang dicantumkan di Sijjin,
sedangkan catatan kebaikannya dicantumkan di ‘Illiyyin;
Penjelasan sikap orang-orang kafir terhadap orang-orang beriman di
dunia, serta sikap orang-orang beriman terhadap orang-orang kafir di akhirat.
Manfaat dan Keutamaan Surat Al-Muthaffifin
Adapun fadhilah dan khasiat dari Surat Al-Muthaffifin adalah sebagai
berikut:
Pertama, Surat Al-Muthaffifin termasuk dalam Al-Mufashshal yang
diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai tambahan, sehingga beliau memiliki
keistimewaan dan keutamaan dibandingkan dengan nabi-nabi pendahulunya.
Kedua, orang yang membacanya akan memperoleh keamanan dari api neraka,
dan tidak akan dihisab di hari kiamat.
Abi Abdullah berkata, “Barangsiapa di dalam salat fardu membaca
wailul-lil-muthaffifin (Surat Al-Muthaffifin), maka Allah akan memberikannya
keamanan di hari kiamat dari api neraka, neraka tidak melihatnya dan ia juga
tidak melihat neraka, ia melintas di atas jembatan neraka, dan tidak dihisab di
hari kiamat.” (Tswabul A’mal: 151)
Ketiga, orang yang membacanya akan diberi minum dari rahiq makhtum di
hari kiamat.
Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat ini (Surat
Al-Muthaffifin), maka Allah akan memberikannya minum dari rahiq makhtum di hari
kiamat, dan jika dibaca pada tempat penyimpanan, maka Allah akan melindunginya
dari segala macam bahaya.” (Tafsirul Burhan, Juz 8: 232)
Demikianlah pembahasan singkat mengenai pokok kandungan, keutamaan serta
manfaat dari Surat Al-Muthaffifin. Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat.
Wallahu A’lam
Kandungan Surah Al-Mutaffifin Ayat 7-17 ini, menjelaskan bahwa orang-orang kafir yang tidak mau mengakui Al-Qur’an sebagai wahyu Allah terhalang dari rahmat-Nya di dunia dan akhirat. Mereka terhalang dari nikmat terbesar bagi seorang hamba, yaitu memandang dan melihat Allah di akhirat.
Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mutaffifin Ayat 7-17
Surah Al-Mutaffifin Ayat 7
كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ
Terjemahan: “Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.
Tafsir Jalalain: كَلَّآ (sekali-kali tidak) maksudnya, benarlah إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡفُجَّارِ (karena sesungguhnya kitab orang-orang yang durhaka) yakni kitab catatan amal perbuatan orang-orang kafir لَفِى سِجِّينٍ (tersimpan dalam sijjiin) menurut suatu pendapat; sijjiin itu adalah nama sebuah kitab yang mencatat semua amal perbuatan setan dan orang kafir.
Menurut suatu pendapat lagi sijjiin itu adalah nama tempat yang berada di lapisan bumi yang ketujuh; tempat itu merupakan pangkalan iblis dan bala tentaranya.
Tafsir Ibnu Katsir: Dengan haq Allah berfirman: كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ (“Sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.”) maksudnya, sesungguhnya tempat kembali dan tempat tinggal mereka adalah neraka sijjin.
Tafsir Kemenag: Ayat-ayat ini menjelaskan kepada orang-orang yang tidak percaya terhadap hari kebangkitan bahwa perbuatan mereka harus dipertanggungjawabkan. Mereka tidak bisa menghindari hukuman Allah karena masing-masing manusia diawasi oleh malaikat yang mencatat semua perbuatannya .
Buku catatan orang-orang yang durhaka kepada Allah akan disimpan di Sijjin, yaitu kitab yang tertulis. Di dalamnya tercatat kejahatan dan kecurangan manusia. Catatan-catatan inilah yang akan dijadikan takaran untuk menghisab mereka.
Tafsir Quraish Shihab: Hindarilah kecurangan dan sadarlah akan hari kebangkitan! Sesungguhnya catatan perbuatan orang-orang yang berdosa tersimpan di dalam Sijjîn.
Surah Al-Mutaffifin Ayat 8
وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٌ
Terjemahan: “Tahukah kamu apakah sijjin itu?
Tafsir Jalalain: وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٌ (Tahukah kamu apakah sijjiin itu?) maksudnya apakah kitab sijjiin itu?.
Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu urusannya menjadi besar, dimana Allah Ta’ala berfirman: وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٌ (“Tahukah kamu apakah sijin itu?”)
Maksudnya hal itu merupakan suatu masalah yang sangat besar, penjara yang kekal abadi dan adzab yang sangat pedih. Kemudian ada beberapa orang yang mengemukakan: “Sijjiin ini berada di lapisan bumi ke tujuh.” Dan yang benar, kata sijjin itu diambil dari kata as-sijn yang berarti tempat yang sempit (penjara). Karena setiap makhluk ciptaan yang berada lebih rendah maka akan lebih sempit, dan setiap yang lebih tinggi akan lebih luas. Masing-masing dari tujuh lapis langit lebih lebih luas dan lebih tinggi daripada yang berada di bawahnya.
Tafsir Kemenag: Ayat-ayat ini menjelaskan kepada orang-orang yang tidak percaya terhadap hari kebangkitan bahwa perbuatan mereka harus dipertanggungjawabkan. Mereka tidak bisa menghindari hukuman Allah karena masing-masing manusia diawasi oleh malaikat yang mencatat semua perbuatannya .
Buku catatan orang-orang yang durhaka kepada Allah akan disimpan di Sijjin, yaitu kitab yang tertulis. Di dalamnya tercatat kejahatan dan kecurangan manusia. Catatan-catatan inilah yang akan dijadikan takaran untuk menghisab mereka.
Tafsir Quraish Shihab: Tahukah kamu apakah Sijjîn itu?
Surah Al-Mutaffifin Ayat 9
كِتَٰبٌ مَّرۡقُومٌ
Terjemahan: “(Ialah) kitab yang bertulis.
Tafsir Jalalain: كِتَٰبٌ مَّرۡقُوم (Ialah kitab yang bertulis) yakni yang mempunyai catatan.
Tafsir Ibnu Katsir: كِتَٰبٌ مَّرۡقُوم (Ialah kitab yang bertulis.
Tafsir Kemenag: Ayat-ayat ini menjelaskan kepada orang-orang yang tidak percaya terhadap hari kebangkitan bahwa perbuatan mereka harus dipertanggungjawabkan. Mereka tidak bisa menghindari hukuman Allah karena masing-masing manusia diawasi oleh malaikat yang mencatat semua perbuatannya .
Buku catatan orang-orang yang durhaka kepada Allah akan disimpan di Sijjin, yaitu kitab yang tertulis. Di dalamnya tercatat kejahatan dan kecurangan manusia. Catatan-catatan inilah yang akan dijadikan takaran untuk menghisab mereka.
Tafsir Quraish Shihab: Sijjîn adalah sebuah buku yang berisi catatan yang ditulis dengan jelas.
Surah Al-Mutaffifin Ayat 10
وَيۡلٌ يَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُكَذِّبِينَ
Terjemahan: “Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan,
Tafsir Jalalain: وَيۡلٌ يَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُكَذِّبِينَ (Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.).
Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَيۡلٌ يَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُكَذِّبِينَ (“Kecelakaan yang besarlah pada hari ini bagi orang-orang yang mendustakan.”) yakni jika mereka pada hari Kiamat kelak digiring menuju kepada apa yang telah dijanjikan oleh Allah bagi mereka yang berupa Sijjin dan adzab yang menhinakan.
Tafsir Kemenag: Dua ayat ini kembali mengancam orang-orang yang mendustakan hari pembalasan dengan azab yang sangat pedih, yaitu neraka. Ancaman dan hukuman bagi orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan memang sangat pedih, karena mengingkari hari kiamat berarti mengingkari keadilan Allah, dan hukum-hukum syariat agama yang berlaku di dunia dan berakibat di akhirat.
Tafsir Quraish Shihab: Celakalah para pendusta, di saat datang hari kebangkitan dan pembalasan.
Surah Al-Mutaffifin Ayat 11
ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ
Terjemahan: “(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.
Tafsir Jalalain: ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ (Yaitu-orang-orang yang mendustakan hari pembalasan) lafal ayat ini berkedudukan sebagai Badal atau Bayan dari lafal Al-Mukadzdzibiin pada ayat sebelumnya.
Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman seraya menjelaskan orang-orang yang mendustakan, jahat lagi kafir. ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ (“[yaitu] orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.”) masudnya mereka tidak mempercayai kejadian hari pembalasan itu dan tidak pula meyakini keberadaannya serta menilainya sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
Tafsir Kemenag: Dua ayat ini kembali mengancam orang-orang yang mendustakan hari pembalasan dengan azab yang sangat pedih, yaitu neraka. Ancaman dan hukuman bagi orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan memang sangat pedih, karena mengingkari hari kiamat berarti mengingkari keadilan Allah, dan hukum-hukum syariat agama yang berlaku di dunia dan berakibat di akhirat.
Tafsir Quraish Shihab: Yaitu manusia yang mendustakan hari pembalasan
Surah Al-Mutaffifin Ayat 12
وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ أَثِيمٍ
Terjemahan: “Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa,
Tafsir Jalalain: وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ (Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas) atau melanggar batas أَثِيمٍ (lagi berdosa) maksudnya banyak dosanya; lafal Atsiim adalah bentuk Mubalaghah dari lafal Aatsim.
Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ أَثِيم (“Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa.”) yakni melampaui batas dan tindakannya dalam melakukan berbagai larangan dan berlebihan dalam menjalankan berbagai hal yang dibolehkan. Sedangkan orang yang berdosa dalam ucapannya adalah: jika berbicara dia berbohong, jika berjanji dia tidak menepati, jika bertengkar dia berbuat jahat.
Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada manusia yang mengingkari hari Kiamat kecuali orang-orang yang selalu melampaui batas-batas agama, yang tertutup hatinya oleh kekafiran, dan yang tidak lagi bermanfaat baginya berbagai peringatan dan ancaman.
Allah berfirman: Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (al-Baqarah/2: 6) Sifat lain dari manusia yang mengingkari hari Kiamat adalah tenggelam dalam perbuatan dosa-dosa besar, acuh tak acuh terhadap perintah dan larangan Allah, lebih mementingkan kesenangan duniawi daripada kehidupan akhirat. Firman Allah:
Maka adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya. (an-Nazi’at/79: 37-39).
Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu kecuali orang yang melampau batas dan banyak berbuat dosa.
Surah Al-Mutaffifin Ayat 13
إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ
Terjemahan: “yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”
Tafsir Jalalain: إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا (Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami) yakni Alquran قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ (ia berkata, “Itu adalah dongengan-dongengan orang-orang yang dahulu”) atau cerita-cerita yang dibuat di masa silam. Lafal Asaathiir bentuk jamak dari lafal Usthuurah atau Isthaarah.
Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ (“Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: ‘Itu adalah dongengan orang-orang terdahulu.’”) maksudnya jika dia mendengar firman-firman Allah yang disampaikan melalui Rasul-Nya, maka dia mendustakan dan memberikan prasangka buruk terhadapnya, sehingga dia berkeyakinan bahwa hal tersebut hanya dibuat-buat, kumpulan dari buku-buku cerita orang-orang terdahulu.
Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa ketika dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada orang-orang yang melampaui batas, selalu berdosa, tidak mempercayai hari akhirat dan Al-Qur’an sebagai kitab suci yang berisi petunjuk-petunjuk Allah untuk mengantarkan manusia ke jalan yang lurus menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, mereka tidak mau mendengarkannya dengan khusyuk atau menyimak isinya.
Mereka bahkan mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah dongeng-dongeng orang-orang dahulu yang didiktekan kepada Nabi Muhammad. Firman Allah: Dan orang-orang kafir berkata, “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh dia (Muhammad), dibantu oleh orang-orang lain,” Sungguh, mereka telah berbuat zalim dan dusta yang besar.
Dan mereka berkata, “(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” Katakanlah (Muhammad), “(Al-Qur’an) itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (al-Furqan/25: 4-6).
Tafsir Quraish Shihab: Jika diperdengarkan kepada mereka ayat-ayat Allah yang berbicara tentang hari pembalasan, mereka berkata, “Itu hanya legenda orang-orang terdahulu.”
Surah Al-Mutaffifin Ayat 14
كَلَّا بَلۡ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ
Terjemahan: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.
Tafsir Jalalain: كَلَّا بَلۡ رَانَ (Sekali-kali tidak demikian) lafal ini mengandung makna hardikan dan cegahan terhadap perkataan mereka yang demikian itu رَانَ (sebenarnya telah menodai) telah menutupi عَلَىٰ قُلُوبِهِم (atas hati mereka) sehingga hati mereka tertutup oleh noda itu (apa yang selalu mereka usahakan itu) yakni kedurhakaan-kedurhakaan yang selalu mereka kerjakan, sehingga mirip dengan karat yang menutupi hati mereka.
Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: كَلَّا بَلۡ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ (“Sekali-sekali tidak [demikian], sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.”) maksudnya, masalahnya tidak seperti apa yang mereka anggap dan tidak pula seperti yang mereka katakan bahwa al-Qur’an itu hanyaa cerita-cerita orang-orang terdahulu semata, tetapi ia merupakan firman Allah Ta’ala sekaligus waktu yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Adapun yang menutup hati mereka dari keimanan adalah noda hitam yang telah memenuhi hati mereka karena banyakknya dosa dan kesalahan.
Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah membantah tuduhan orang-orang kafir Mekah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu dongengan orang dahulu. Sama sekali bukan demikian. Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.
Kebiasaan mereka berbuat dosa telah menyebabkan hati mereka jadi keras, gelap, dan tertutup laksana logam yang berkarat. Oleh karena itu, mereka tidak dapat membedakan antara dusta yang berat dengan kebenaran yang terang benderang. Hati yang demikian hanya bisa dibersihkan dengan tobat yang sempurna.
Tafsir Quraish Shihab: Hindarilah, wahai orang-orang yang melampaui batas, kata-kata yang kalian lontarkan! Hati orang-orang yang melampaui batas itu telah tertutup oleh sikap kafir dan kemaksiatan yang mereka perbuat.
Surah Al-Mutaffifin Ayat 15
كَلَّآ إِنَّهُمۡ عَن رَّبِّهِمۡ يَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوبُونَ
Terjemahan: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka.
Tafsir Jalalain: كَلَّآ (Sekali-kali tidak) artinya benarlah إِنَّهُمۡ عَن رَّبِّهِمۡ يَوۡمَئِذٍ (sesungguhnya mereka pada hari itu terhadap Rabb mereka) pada hari kiamat (benar-benar tertutup) sehingga mereka tidak dapat melihat-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka.
Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang kafir yang tidak mau mengakui Al-Qur’an sebagai wahyu Allah terhalang dari rahmat-Nya di dunia dan akhirat. Mereka terhalang dari nikmat terbesar bagi seorang hamba, yaitu memandang dan melihat Allah di akhirat.
Imam Syafi’i mengatakan ayat ini bisa dijadikan dalil bahwa orang-orang Mukmin tidak akan terhalangi dari memandang Allah di akhirat, sebagaimana firman-Nya: Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, memandang Tuhannya. (al-Qiyamah/75: 22-23).
Tafsir Quraish Shihab: Para pendusta itu benar-benar terhalangi dari rahmat Allah, lantaran maksiat itu.
Surah Al-Mutaffifin Ayat 16
ثُمَّ إِنَّهُمۡ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ
Terjemahan: “Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.
Tafsir Jalalain: ثُمَّ إِنَّهُمۡ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ (Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk Jahim) yakni mereka memasuki neraka yang membakar.
Tafsir Ibnu Katsir: ثُمَّ إِنَّهُمۡ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ (“Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.”) maksudnya, selain mereka diharamkan melihat Rabb Yang Mahapemurah, mereka juga termasuk dalam penghuni neraka.
Tafsir Kemenag: Setelah dijauhkan dari rahmat Allah dan tidak dapat mencapai cita-cita yang diangan-angankannya pada hari pembalasan, orang-orang kafir itu benar-benar masuk neraka Jahim yang sangat panas.
Tafsir Quraish Shihab: Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.
Surah Al-Mutaffifin Ayat 17
ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ
Terjemahan: “Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”.
Tafsir Jalalain: ثُمَّ يُقَالُ (Kemudian dikatakan) kepada mereka هَٰذَا (“Inilah) maksudnya azab ini ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ (yang dahulu selalu kalian dustakan.”).
Tafsir Ibnu Katsir: ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ (“Kemudian, dikatakan [kepada mereka]: Inilah adzab yang dahulu selalu kamu dustakan.”) yakni hal itu akan dikatakan kepada mereka dengan maksud mencaci, menjelekkan, merendahkan dan menghina mereka.
Tafsir Kemenag: Kemudian dikatakan kepada mereka ucapan yang mengandung cercaan sehingga penderitaan mereka itu berlipat ganda. Di samping penderitaan fisik, mereka juga menderita secara psikis (kejiwaan). Inilah azab yang selalu mereka dustakan ketika di dunia. Inilah balasan terhadap sikap mereka mendustakan berita-berita rasul yang benar, seperti anggapan mereka bahwa manusia tidak akan dibangkitkan kembali, Al-Qur’an itu dongengan orang-orang dahulu, Muhammad saw itu hanya seorang tukang sihir atau pendusta, dan berbagai macam tuduhan lainnya.
Di akhirat nanti, akan menjadi jelas bagaimana fakta kebenaran yang sesungguhnya yang dapat disaksikan oleh pancaindra mereka. Alangkah sedihnya dirasakan oleh seorang yang sedang menderita azab bila diberi kecaman yang sangat menusuk hatinya, padahal ia sempat menempuh jalan keselamatannya jika ia benar-benar beriman dan bertakwa.
Tafsir Quraish Shihab: Lalu dikatakan kepada mereka, sebagai penghinaan, “Siksa yang diturunkan pada kalian saat ini adalah siksa yang di dunia dahulu kalian dustakan kebenarannya.”
Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mutaffifin Ayat 7-17 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.
Ilmu adalah cahaya bagi kehidupan bagi umat manusia. Dengannya, kehidupan terasa lebih indah, yang susah menjadi mudah, yang tidak mungkin bisa jadi mungkin, yang jauh terasa dekat. Seseorang dikatakan berilmu apabila ia memiliki pengetahuan dan menggunakan akal sehatnya untuk berpikir. Dia akan melakukan sesuatu berdasarkan petunjuk ilmu dan daya nalarnya, sehingga tidak ada perbuatannya yang bertentangan dengan akal sehat, baik menurut tradisi, agama, hukum maupun aturan yang berlaku. Ilmu adalah kunci segala kebaikan, dia sebagai sarana untuk menunaikan perintah-Nya sekaligus menjauhi larangan-Nya. Tidak sempurna keimanan seseorang tanpa ilmu, demikian juga amal tanpa ilmu menjadi sia-sia. Ilmu pengetahuan juga merupakan kunci menuju keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk merubah tingkah laku dan perilaku ke arah yang lebih baik, karena pada dasarnya ilmu menunjukkan jalan menuju kebenaran dan meninggalkan kebodohan. Demikian pentingnya ilmu bagi kehidupan manusia, mencari ilmu merupakan ibadah wajib bagi tiap muslim.
A. Membaca Al Hadits
Tentang Menuntut Ilmu
1. Hadis Riwayat Ibnu
Majah
طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
(رواه ابن ماجه)
a. Makna harfiah hadis
Menuntut |
= |
طَلَبُ |
Ilmu |
= |
اْلعِلْمِ |
Wajib |
= |
فَرِيْضَةٌ |
Atas |
= |
عَلَى |
Semua |
= |
كُلِّ |
Muslim |
= |
مُسْلِمٍ |
b. Kandungan isi hadis
Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap orang islam, baik laki-laki maupun perempuan, baik anak-anak, remaja atapun dewasa. Dengan demikian, jika menuntut ilmu itu hukumnya adalah wajib maka orang-orang yang tidak melaksanakannya akan mendapat dosa. Sedangkan orang yang menuntut ilmu akan dimisalkan seperti orang-orang yang berjuang di jalan Allah dan jika ia mati pada saat menuntut imu itu, maka ia akan mati dalam keadaan syahid.
2. Hadits Riwayat Ahmad,
At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءَ قَالَ سَمِعْتُ
رَسُوْ لَ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ سَلَكَ
طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى
اْلجَنَّةِ وَإِنَّ اْلمَلإَكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًالِطَالِبِ اْلعِلْمِ
وَإِنَّ طَالِبَ اْلعِلْمِ يَسْتَغْفِرُلَهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ
حَتَّى اْلحِيْتَانِ فِي اْلمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ اْلعِلْمِ عَلَى اْلعَاِبدِ
كَفَضْلِ اْلقَمَرِعَلَى سَاءِرِ اْلكَوَاكِبِ إِنَّ اْلعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ
اْلأَنْبِيَاءِ إِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا
إِنَّمَا وَرِّثُوْا اْلعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
(رواه احمد و الترمذي وألوداودوابن ماجه)
Artinya:
“Dari Abi Darda dia berkata :”Aku mendengar Rasulullah saw
bersabda”: “Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka
mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga, dan
sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya karena ridla
(rela) terhadap orang yang mencari ilmu. Dan sesungguhnya orang yang mencari
ilmu akan memintakan bagi mereka siapa-siapa yang ada di langit dan di bumi
bahkan ikan-ikan yang ada di air. Dan sesungguhnya eutamaan orang
yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keutamaan (cahaya) bulan
purnama atas seluruh cahaya bintang. Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris
para Nabi, sesugguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham,
akan tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barang siapa yang mengambil
bagian untuk mencari ilmu, maka dia sudah mengambil bagian yang besar.” (H.R.
Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majjah).
a. Arti Harfiah Hadis:
Menempuh |
: |
سَلَكَ |
Sayapnya |
: |
أَجْنِحَتَهَا |
Suatu jalan |
: |
طَرِيْقًا |
Ikan-ikan |
: |
الحِيْتَان |
Menuntut |
: |
يَلْتَمِسُ |
Keutamaan orang
berilmu |
: |
فَضْلَ اْلعِلْمِ |
Mepermudah |
: |
سَهَّلَ |
Pewaris Nabi |
: |
وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ |
Pasti meletakkan |
: |
لَتَضَعُ |
Bagian yang banyak |
: |
بِحَظٍّ وَافِرٍ |
b. Kandungan Isi Hadis
Untuk memperoleh kesuksesan atau
kebahagian baik di dunia maupun di akhirat bahkan keduaduanya harus
mempergunakan alat, alat untuk mencapai kesuksesan itu adalah ilmu. Ilmu ibarat
cahaya yang mampu menerangi jalan seseorang untuk mewujudkan segala cita-citanya,
sementara kebodohan akan membawa seseorang kepada kemadlaratan atau
kesengsaraan yang membelenggu hidupnya.
Dalam hadits yang pertama Rasulullah
saw menjelaskan :
§ Allah akan memberikan
berbagai kemudahan kepada para pencari ilmu, seperti kemudahan bergaul,
kemudahan mendapatkan pekerjaan, termasuk kemudahan untuk menuju surga.
§ Para malaikat akan
memberikan perlindungan kepada para pencari ilmu dengan cara meletakkan
sayapnya sebagai bukti kerelaan mereka terhadap apa yang dilakukan oleh para
pencari ilmu.
§ Aktivitas pencarian
ilmu adalah aktivitas yang sangat mulia, sehingga kepada para pencari ilmu
semua makhluk Allah baik yang ada di langit maupun di bumi bahkan ikan-ikan
yang ada di dalam air akan memberikan berbagai bantuan, mereka semua ikut
mendoakan agar orang yang mencari ilmu selalu mendapatkan ampunan dari Allah
SWT.
§ Allah memberikan
keuatamaan kepada para pencari ilmu melebihi keutamaan yang diberikan kepada
para ahli ibadah, ibarat cahaya bulan purnama yang mampu mengalahkan cahaya
seluruh bintang.
§ Para ulama (orang yang berilmu dan selalu menjadi pencari ilmu) adalah pewaris para Nabi, merekalah yang akan meneruskan para nabi dalam menegakan kebenaran dan memerangi kezaliman dengan menyebarkan ilmu yang diterimanya dari nabi kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Semua nabi tidaklah mewariskan harta benda untuk umatnya melainkan mewariskan ilmu untuk kemaslahatan ummatnya. Oleh karena itu siapapun yang berusaha menuntut ilmu dan berhasil menguasainya, maka dia telah berhasil mendapatkan bagian yang sangat besar sebagai modal untuk menghadap Allah swt.
3. Hadits Riwayat
at-Tirmidzi
عَنْ أَنَسِ ابْنِ مَالِكِ قاَلَ: قَالَ
رَسُوْ لُ اللّهِ صَلَىّ اللُّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ
اْلعِلْمِ كَانَ فِيْ سَبِيْلِ اللّهِ حَتَّى يَرْجِعُ (رواه الترمذي)
Artinya: “Dari Anas bin Malik berkata, telah bersabda Rasulullah
saw : “barangsiapa keluar (pergi) untuk mencari ilmu maka ia berada
di jalan Allah sehingga kembali (HR. Tirmidzi).
a. Arti Harfiah Hadis:
Barang siapa |
: |
مَنْ |
Berada di jalan
Allah |
: |
كَانَ فِيْ سَبِيْلِ اللّهِ |
Yang keluar |
: |
خَرَجَ |
Hingga kembali |
: |
حَتَّى يَرْجِعُ |
b. Isi Kandungan Hadis:
Dalam hadits yang
kedua Rasulullah menegaskan bahwa menuntut ilmu itu dinilai sebagai berjuang di
jalan Allah, sehingga barang siapa yang mencari ilmu dengan sungguh-sungguh dia
akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda bahkan bila sesorang meninggal dunia
saat mencari ilmu dia akan mendapatkan surganya Allah karena dinilai sama
dengan mati syahid.
4. Hadis Riwayat Baihaqi
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا
تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ (رواه بيهقى)
Artinya: “Telah bersabda Rasulullah saw : “Jadilah engkau orang yang
berilmu pandai), atau orang yang belajar, atau orang yang mau mendengarkan
ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang
kelima maka kamu akan celaka (H.R. Baehaqi)
a. Arti Harfiah Hadis:
Orang yang pandai |
: |
عَالِمًا |
Orang yang
mencintai ilmu |
: |
مُحِبًّا |
Orang yang belajar |
: |
مُتَعَلِّمًا |
Orang yang kelima |
: |
خَامِسًا |
Orang yang
mendengarkan |
: |
مُسْتَمِعًا |
Maka kamu celaka |
: |
فَتَهْلِكَ |
b. Kandungan Isi Hadis
Sementara dalam Hadits ketiga
Rasulullah menganjurkan agar umat Islam (kaum muslimin) mau menjadi orang yang
:
§ Berilmu (pandai),
sehingga dengan ilmu yang dimiliki seorang muslim bisa mengajarkan ilmu yang
dimilikinya kepada orang-orang yang ada disekitarnya. Dan dengan demikian
kebodohan yang ada dilingkungannya bisa terkikis habis dan berubah menjadi
masyarakat yang beradab dan memiliki wawasan yang luas.
§ Jika tidak bisa
menjadi orang pandai yang mengajarkan ilmunya kepada umat manusia, jadilah
sebagai orang yang mau belajar dari lingkungan sekitar dan dari orang-orang
pandai.
§ Jika tidak bisa
menjadi orang yang belajar, jadilah sebagai orang yang mau mendengarkan ilmu
pengetahuan. Setidaknya jika kita mau mendengarkan ilmu pengetahun kita bias
mengambil hikmah dari apa yang kita dengar.
§ Jika menjadi
pendengar juga masih tidak bisa, maka jadilah sebagai orang yang menyukai ilmu
pengetahun, diantaranya dengan cara membantu dan memuliaka orang-orang yang
berilmu, memfasilitasi aktivitas keilmuan seperti menyediakan tempat untuk
pelaksanaan pengajian dan lain-lain.
§ Janganlah menjadi
orang yang kelima, yaitu yang tidak berilmu, tidak belajar, tidak mau
mendengar, dan tidak menyukai ilmu. Jika diantara kita memilih yang kelima ini
akan menjadi orang yang celaka.